Rabu, 03 Januari 2018

Pondok Pesantren Al-Ishlah



A.  PROFIL PESANTREN AL-ISHLAH BANDARKIDUL KEDIRI
1.      Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Ishlah
Pondok Pesantren Al-Ishlah berdiri pada tanggal 17 Oktober 1954 oleh seorang ulama alumni pondok pesantren Mojosari Brebeg kabupaten Nganjuk, yaitu KH. Thoha Mu’id putra KH. Abdul Mu’id, beliau lahir tanggal 4 Agustus 1924 di Kediri. Riwayat pendidikan beliau dimulai ketika masuk MI yang diasuh oleh ayah beliau sendiri. Dilanjutkan belajar di madrasah menengah selama tiga tahun, kemudian beliau hijrah ke Tuban selama setahun.
Pada usia 17 tahun beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren selama 13 tahun (1940-1953). Dan ketika beliau sedang menuntut ilmu di Mojosari itulah ibunda beliau meninggal pada hari ahad pon tanggal 14 Sya’ban 1370 H, bertepatan dengan tanggal 20 Mei 1951 pada pukul 24.00 WIB. Sedangkan ayahanda beliau wafat pada hari sabtu pon pada tanggal 11 Dzulhijjah bertepatan pada tanggal 7 Mei 1960 pukul 09.00 WIB, dimana beliau sudah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Permulaan KH. Thoha Mu’id memilih kata Al-Ishlah sebagai nama pondok pesantren disebabkan kata al-Ishlah merupakan simbol perdamaian umat. Beliau mengharapakan kepada santri-santrinya, dengan nama pondok tersebut, santri-santrinya mampu menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian untuk membangun umat yang rukun dan damai tanpa memihak satu kelompok manapun, serta beliau berharap dapat mendamaikan keanekaragaman madzhab dan wadah umat Islam yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan gesekan antara umat Islam itu sendiri.[1]
Ide pengambilan nama tersebut sesuai dengan ayat al-Qur’an:
لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Terjemahnya    :  "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan dari bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keidhaan Allah, maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar” (Q.S An-Nisa’: 114)[2]

Pondok Pesantren Al-Ishlah Bandar Kidul Mojoroto Kediri yang berstatus milik sendiri tidak berupa yayasan, pada awal berdirinya hanya memilki 6 santri beberapa tahun kemudian banyak santri yang berdatangan dari berbagi daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra dan daerah-daerah lain, sehingga saat ini santri yang mukim maupun santri kalong di Pondok Pesantren Al Ishlah Bandar Kidul Mojoroto Kediri berjumlah + 450.[3]
Semenjak berdirinya Pesantren Al Ishlah yaitu pada tahun 1954, hingga tahun 1966 pembelajaran Pondok Al-Ishlah dilakukan dengan sistem wethonan dan sorogan, tetapi setelah Pondok Lirboyo mendirikan Institut Tribakti pada tahun 1966 mengalirlah pelajar-pelajar tamatan Pondok besar seperti Ploso, Jampes dan Bendo, untuk mengikuti kuliah di Tribakti dengan mukim di Al-Ishlah, di samping juga ada yang kuliah di STAIN/IAIN Kediri ataupun sekolah tinggi yang sederajat. Perkembangan ini yang pada akhirnya menjadikan pondok pesantren Al-Ishlah menerima santri yang belajar atau sekolah diluar pondok. Hal ini beliau KH. Thoha Mu’id melandasi dasar pemikiran tersebut dengan ayat al-Quran surat al-Isro ayat 80, yang berbunyi:
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
Terjemahnya    : Dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (Q.S. Al-Isra’: 80)[4]

Hal ini membawa dampak positif dari perubahan lingkungan Pondok Pesantren Al-Ishlah yang semula bercorak tradisional/salafi menjadi terpengaruh sistem semi modern atau komprehensif. Dengan potensi yang cukup dan terdidik serta terampil untuk mengajar, maka pengurus Al-Ishlah menganggap perlu untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat klasikal, agar santri lebih bebas untuk belajar.
Untuk merespon itu semua tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang lama dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik, maka di dirikanlah Madrasah Diniyah Islamiyyah Al-Badriyah/MIA pada tanggal 15 Syawal 1387 yang bertepatan pada tanggal 26 Januari 1967 oleh pengurus Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan diresmikan oleh KH. Thoha Mu’id, peresmian dilakukan pada waktu peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, di Pondok Pesantren Al-Ishlah pada tahun 1967 dengan nama Al-Badriyah, yang artinya bulan purnama tanggal 14, dengan berdirinya Madrasah Diniyah Islamiyyah Al-Badriyah maka Pondok Pesantren Al-Ishlah semakin maju, hal ini tampak pada kurikulum madrasah dan tingkat pendidikan.[5]
Ide pengambilan nama madrasah MIA sesuai dengan Surat dasar tauhid yang diambil dari Surat Ali Imran ayat 79, sebagai berikut ;
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Terjemahnya    :  “Dan Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali Imran: 79)[6]

Berangkat dari dasar kesemuanya diatas, maka terdoronglah keinginan KH. Thoha Mu’id untuk mendirikan Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan tujuan:
a.       Mewujudkan pendidikan agama Islam secara continue dan konsekuen.
b.      Meleksanakan Amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan perintah Allah SWT dan Rasulnya, serta menyiarkan agama Islam melalui dakwah dan pendidikan.
c.     Mempersatukan semua wadah-wadah umat Islam baik secara langsung atau tidak langsung untuk menunjukkan Islam kaffah serta rohmatan lil’alamin.
d.    Mencetak cendekiawan muslim yang memiliki jiwa iman dan taqwa kepada Allah SWT, serta
e.       Mengamalkan Pancasila sebagai dasar Negara sebagai wujud hubbul wathon min al-iman.
2.      Letak Geografis Pondok Pesantren Al-Ishlah
Lokasi   Pondok Pesantren Al-Ishlah berada di pusat kota Kediri yaitu di barat kota, tepatnya di desa Bandar Kidul Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Pondok Pesantren Al-Ishlah sendiri berdiri di atas area tanah seluas 1.780 m2.[7] dengan batasan-batasan sebagai berikut :
Sebelah timur     : pemukiman penduduk, Pasar Bandar dan Sungai Brantas
Sebelah selatan   : Pemukiman Penduduk jalan KH. Hasyim Asy’ari
Sebelah barat      : Jalan KH. Agus Salim, Masjid Darun Najach, pemukiman penduduk.
Sebelah utara      : Jalan KH. Wakhid Hasyim
3.      Struktur Kepengurusan Pondok Pesantren Al-Ishlah[8]


 No Kantor Pondok: 0354 780 272 


[1] Arsip Sejarah Pondok Pesantren Al-Ishlah Bandar Kidul, 2006.
[2] Al-Qur’an [4] : 114.
[3] Wawancara dengan KH. Zubaduz Zaman Thoha (Putra ke dua KH. Thoha Mu’id dari 11 Bersaudara).
[4] Al-Qur’an [17] : 80. (ayat tersebut dapat dilihat di pintu gerbang utama pondok pesantren al ishlah, dan salah satu peninggalan atau karya bliau yang terakhir dalam bentuk bangunan gapura pondok, sebelum beliau di panggil oleh Allah SWT.)
[5] Wawancara dengan H. Zubaduz Zaman April 2010.
[6] Al-Qur’an [3] : 79.
[7] Dokumen Pondok Pesantren Al-Ishlah 2006.
[8] Dokumen Pondok Pesantren Al-Ishlah 2010