A. PROFIL PESANTREN AL-ISHLAH
BANDARKIDUL KEDIRI
1.
Sejarah berdirinya Pondok
Pesantren Al-Ishlah
Pondok Pesantren Al-Ishlah berdiri pada tanggal 17
Oktober 1954 oleh seorang ulama alumni pondok pesantren Mojosari Brebeg
kabupaten Nganjuk, yaitu KH. Thoha Mu’id putra KH. Abdul Mu’id, beliau lahir
tanggal 4 Agustus 1924 di Kediri. Riwayat pendidikan beliau dimulai ketika
masuk MI yang diasuh oleh ayah beliau sendiri. Dilanjutkan belajar di madrasah
menengah selama tiga tahun, kemudian beliau hijrah ke Tuban selama setahun.
Pada usia 17 tahun beliau menuntut ilmu di Pondok
Pesantren selama 13 tahun (1940-1953). Dan ketika beliau sedang menuntut ilmu
di Mojosari itulah ibunda beliau meninggal pada hari ahad pon tanggal 14
Sya’ban 1370 H, bertepatan dengan tanggal 20 Mei 1951 pada pukul 24.00 WIB.
Sedangkan ayahanda beliau wafat pada hari sabtu pon pada tanggal 11 Dzulhijjah
bertepatan pada tanggal 7 Mei 1960 pukul 09.00 WIB, dimana beliau sudah menjadi
pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Permulaan KH. Thoha Mu’id memilih kata Al-Ishlah
sebagai nama pondok pesantren disebabkan kata al-Ishlah merupakan simbol perdamaian umat. Beliau
mengharapakan kepada santri-santrinya, dengan nama pondok tersebut,
santri-santrinya mampu menginternalisasikan nilai-nilai perdamaian untuk
membangun umat yang rukun dan damai tanpa memihak satu kelompok manapun, serta
beliau berharap dapat mendamaikan keanekaragaman madzhab dan wadah umat Islam
yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan gesekan antara umat
Islam itu sendiri.[1]
Ide pengambilan nama tersebut sesuai
dengan ayat al-Qur’an:
لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ
نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ
النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Terjemahnya : "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan
dari bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh
(manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara
manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keidhaan Allah,
maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar” (Q.S An-Nisa’: 114)[2]
Pondok Pesantren Al-Ishlah Bandar Kidul Mojoroto
Kediri yang berstatus milik sendiri tidak berupa yayasan, pada awal berdirinya
hanya memilki 6 santri beberapa tahun kemudian banyak santri yang berdatangan dari berbagi daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa
Barat, Sumatra dan daerah-daerah lain, sehingga saat ini santri yang mukim
maupun santri kalong di Pondok Pesantren Al Ishlah Bandar Kidul Mojoroto Kediri
berjumlah + 450.[3]
Semenjak berdirinya Pesantren Al Ishlah yaitu pada
tahun 1954, hingga tahun 1966 pembelajaran Pondok Al-Ishlah dilakukan dengan
sistem wethonan dan sorogan, tetapi setelah Pondok Lirboyo
mendirikan Institut Tribakti pada tahun 1966 mengalirlah pelajar-pelajar
tamatan Pondok besar seperti Ploso, Jampes dan Bendo, untuk mengikuti kuliah di
Tribakti dengan mukim di Al-Ishlah, di samping juga ada yang kuliah di STAIN/IAIN
Kediri ataupun sekolah tinggi yang sederajat. Perkembangan ini yang pada
akhirnya menjadikan pondok pesantren Al-Ishlah menerima santri yang belajar
atau sekolah diluar pondok. Hal ini beliau KH. Thoha Mu’id melandasi dasar pemikiran tersebut dengan
ayat al-Quran surat al-Isro ayat 80, yang
berbunyi:
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي
مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
Terjemahnya : Dan Katakanlah: "Ya Tuhan-ku,
masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara
keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang
menolong (Q.S. Al-Isra’: 80)[4]
Hal ini membawa dampak positif dari perubahan lingkungan
Pondok Pesantren Al-Ishlah yang semula bercorak tradisional/salafi menjadi
terpengaruh sistem semi modern atau komprehensif. Dengan potensi yang cukup dan
terdidik serta terampil untuk mengajar, maka pengurus Al-Ishlah menganggap
perlu untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bersifat klasikal, agar
santri lebih bebas untuk belajar.
Untuk merespon itu semua tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur
yang lama dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik, maka di dirikanlah Madrasah Diniyah Islamiyyah
Al-Badriyah/MIA pada tanggal 15 Syawal 1387 yang bertepatan pada tanggal 26
Januari 1967 oleh pengurus Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan diresmikan oleh
KH. Thoha Mu’id, peresmian dilakukan pada waktu peringatan maulid Nabi Muhammad
SAW, di Pondok Pesantren Al-Ishlah pada tahun 1967 dengan nama Al-Badriyah,
yang artinya bulan purnama tanggal 14, dengan berdirinya Madrasah Diniyah
Islamiyyah Al-Badriyah maka Pondok Pesantren Al-Ishlah semakin maju, hal ini
tampak pada kurikulum madrasah dan tingkat pendidikan.[5]
Ide pengambilan nama
madrasah MIA sesuai dengan Surat dasar tauhid yang diambil dari Surat
Ali Imran ayat 79, sebagai berikut ;
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Terjemahnya : “Dan Tidak wajar bagi
seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian,
lalu Dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata):
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan
Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (QS. Ali Imran: 79)[6]
Berangkat dari dasar kesemuanya diatas, maka
terdoronglah keinginan KH. Thoha Mu’id untuk mendirikan Pondok Pesantren
Al-Ishlah dengan tujuan:
a.
Mewujudkan pendidikan agama Islam
secara continue dan konsekuen.
b.
Meleksanakan Amar ma’ruf nahi
munkar berdasarkan perintah Allah SWT dan Rasulnya, serta menyiarkan agama
Islam melalui dakwah dan pendidikan.
c. Mempersatukan semua wadah-wadah
umat Islam baik secara langsung atau tidak langsung untuk menunjukkan Islam
kaffah serta rohmatan lil’alamin.
d. Mencetak cendekiawan muslim yang
memiliki jiwa iman dan taqwa kepada Allah SWT, serta
e.
Mengamalkan Pancasila sebagai
dasar Negara sebagai wujud hubbul wathon min al-iman.
2.
Letak Geografis Pondok Pesantren
Al-Ishlah
Lokasi Pondok Pesantren Al-Ishlah berada di
pusat kota Kediri yaitu di barat kota, tepatnya di desa Bandar Kidul Kecamatan
Mojoroto Kota Kediri. Pondok Pesantren Al-Ishlah sendiri berdiri di atas area
tanah seluas 1.780 m2.[7] dengan
batasan-batasan sebagai berikut :
Sebelah timur : pemukiman penduduk, Pasar
Bandar dan Sungai Brantas
Sebelah selatan : Pemukiman Penduduk jalan
KH. Hasyim Asy’ari
Sebelah barat : Jalan KH. Agus Salim,
Masjid Darun Najach, pemukiman penduduk.
Sebelah utara : Jalan KH. Wakhid Hasyim
3.
Struktur Kepengurusan Pondok
Pesantren Al-Ishlah[8]
No Kantor Pondok: 0354 780 272
[1] Arsip
Sejarah Pondok Pesantren Al-Ishlah Bandar Kidul, 2006.
[2]
Al-Qur’an [4] : 114.
[3]
Wawancara dengan KH. Zubaduz Zaman Thoha (Putra ke dua KH. Thoha Mu’id dari 11
Bersaudara).
[4]
Al-Qur’an [17] : 80. (ayat tersebut dapat dilihat di pintu gerbang utama pondok pesantren al ishlah, dan salah satu peninggalan atau karya bliau yang terakhir dalam bentuk bangunan gapura pondok, sebelum beliau di panggil oleh Allah SWT.)
[5]
Wawancara dengan H. Zubaduz Zaman April 2010.
[6] Al-Qur’an
[3] : 79.
[7] Dokumen
Pondok Pesantren Al-Ishlah 2006.
[8] Dokumen
Pondok Pesantren Al-Ishlah 2010

;)8
BalasHapusAssalamualaikum..
BalasHapusPk mau tanya kalau mondok di sini boleh kuliah di luar.?
Iya, boleh
BalasHapus